May Lee Merasa Menjadi Korban

May Lee Merasa Menjadi Korban

May Lee Merasa Menjadi Korban – Sidang perceraian Okan Cornelius dan istrinya, May Lee ulang bergulir. Sidang masih beragendakan mediasi berasal dari ke-2 belak pihak yang rupanya tidak sukses mengakibatkan keduanya ulang rujuk. Okan dan May sepakat untuk berpisah.

Sementara itu, Lee juga perlu hadapi persoalan hukum yang dilaporkan oleh Viviane atas tuduhan penganiayaan pada anaknya dan Okan, Jaden Kornelius Tjeuw. Lee kemudian membantah dirinya melaksanakan kekerasan pada Jaden yang ia rawat sejak masih kecil

Lee menceritakan bahwa di awalnya Vivian sulit meraih akses untuk bertemu anaknya. Lee bahkan pernah dimarahi Okan karena mengizinkan putranya bertemu Vivian.

“Dari th. 2017 sampai sekarang si V agak kesusahan ketemu mirip anaknya mungkin dia tidak tau cermat bagaimana problem berasal dari mana,” ungkap Lee sementara ditemui WowKeren di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (14/5). “Dan saya tahu perasaan dia sebagai seorang ibu kala dia mampir bertemu J saya tidak pernah melarang kendati suami saya marah mirip saya.”

Kendati demikian, Lee merasakan posisi yang rumit sementara jadi istri Okan. Ia tak tega memandang Vivian tak dapat bertemu anaknya. Namun ia juga perlu hadapi makian berasal dari suaminya.

“Saya memberi tambahan J kepada ibunya dan suami saya marah mirip saya …jika saya melaksanakan apa yang di beritakan saya tidak bakal ngasih J ke ibunya sementara itu pas di panggil sekolah saya tidak mungkin datang,” tambah Lee. “Jadi posisi saya rumit di satu segi saya juga seorang ibu yang tidak mungkin saya larang V untuk bertemu tapi di satu segi saya perlu terima perlakuan di maki-maki suami saya sendiri.”

Lebih lanjut, kuasa hukum Lee kemudian menyimpulkan bahwa kliennya tersebut tengah jadi korban berasal dari persoalan perebutan hak asuh anak antara Okan dan Vivian. Pasalnya sampai sementara ini tidak tersedia visum yang tunjukkan bahwa Jaden terima tindak kekerasan.

“Kami menyampaikan sebenarnya laporan itu bukan melaporkan orang, tapi indikasi dikira tindak pidana tapi dalam laporan kan masih dalam penyelidikan, juga tunggu hasil visum kan belum tersedia . Kalo ga tersedia bermakna tidak dapat di katakan kalo tersedia tindakan kekerasan. Proses hukum ini bakal berbalik” pungkas kuasa hukum May Lee. “Klien kita sebenarnya korban dalam perebutan hak asuh. Ketika pemberitaan itu terlampau ekstrim kena fakta nya bukan begitu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *